admin
Muhammad Jauhari Sofi
(Dosen Komunikasi Lintas Budaya UIN K.H. Abdurrahman Wahid)
Abdurrahman Wahid (selanjutnya disebut Gus Dur) adalah sosok yang kompleks. Gus Dur lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren. Kakeknya adalah seorang pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi sosial-keagamaan terbesar di Asia. Ayahnya adalah salah seorang founding father di Republik Indonesia dan sekaligus menjabat sebagai menteri agama pertama. Silsilah Gus Dur terhubung hingga ke raja-raja Jawa di masa lalu. Masa remajanya banyak dihabiskan di lingkungan pesantren guna mempelajari literatur klasik keislaman. Di banyak ceramahnya, Gus Dur sering kedapatan menyitir pandangan para ulama klasik dan syair-syair dari kitab kuning, sebagaimana biasa dilakukan oleh orang-orang pesantren.
Muhammad Autad An Nasher
(Redaktur Pelaksana Alif.id)
Kurang lebih selama 3 tahun (2016-2019) penulis bekerja di Seknas Jaringan GUSDURian Indonesia. Dari satu rapat ke rapat lainnya, kami selalu membincangkan warisan (legacy)—nilai, pemikiran, dan perjuangan—yang telah ditinggalkan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pembagian tugas oleh putri-putrinya, sahabat, serta muridnya. Mereka berkolaborasi satu sama lain untuk nyengkuyung warisan yang telah ditinggalkannya.
Maghfur Ahmad
(Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN K.H. Abdurrahman Wahid)
Perihal nama K.H. Abdurrahman Wahid itu tidak main-main. Nama, memang tidak layak dibuat mainan. Orang tua kita, orang-orang Jawa, termasuk dalam diskursus Islam menganjurkan memberi nama yang baik, keren, dan membanggakan. Bukan sekedar sebagai identitas atau pembeda. Terselip doa, inspirasi, harapan, dan imajinasi-imajinasi masa dapan di balik sebuah nama. Dengan nama besar Gus Dur, “ada spirit, pesan, dan nilai-nilai yang harus diperjuangkan oleh UIN Pekalongan,” pesan bu Nyai Shinta Wahid. Dua kali penulis sowan, 28/12/2022 dan 02/08/2022.


