Di awal kepemimpinannya sebagai Menteri Agama RI, Gusmen (sapaan Menteri Agama RI) pernah menegaskan bahwa dirinya adalah menteri bagi semua agama, oleh karenanya beliau memposisikan diri sebagai seorang pemimpin yang dipasrahi kewenangan oleh negara dalam menata kehidupan beragama tentu harus mampu bersikap bijak dalam menata dan mengelola kehidupan beragama dan hubungan antar agama menjadi lebih harmonis tanpa harus ada yang terusik dan merasa tidak nyaman dengan keberadaan pribadi dari umat beragama.
Jika dilihat dari maksud dan tujuan SE Menag No 5 Tahun 2022 ini adalah ingin menata pengeras suara (TOA) yang ada di masjid dan mushalla menjadi lebih tertata dan semakin menjaga tepa salira atau toleransi dalam hubungannya dengan mereka yang berbeda agama. Alangkah indahnya, jika sesorang yang beragama terutama seorang muslim mampu menunjukkan sikap dari ekpresi keberagamaanya saling memahami dan mengerti dengan mereka yang berbeda agama atau keyakinan sehingga tidak ada yang merasa terusik dan tersakiti.
Oleh karenanya, niat baik Gusmen ini harus disambut dengan sikap yang positif, terlebih jika melihat bahwa pengeras suara masjid dan mushala (TOA) itu sendiri adalah instrumen baru dalam mengekpresikan sikap beragama atau dalam istilah lain disebut dengan bid’ah, maka bagaimana agar TOA yang dikatakan bid’ah itu tidak sayyi’ah akan tetapi tetap menjadi bid’ah yang hasanah, tentu harus ditata dan dikelola dengan baik. Hal ini senada dengan pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya, yang artinya “Setiap dari kamu adalah orang yang sedang bermunajat pada Tuhannya, maka janganlah sebagian dari kalian menyakiti yang lain. Dan janganlah kalian mengeraskan suaramu dibandingkan yang lain saat membaca Al-Qur’an atau saat shalat. (HR. Abu Dawud)”
Semoga kita semua mampu memiliki sikap yang positif dalam berbagai hal, mengedepankan sikap husnudzan dalam menyikapi berbagai hal dan melakukan tabayun terlebih dahulu sebelum menghukumi seseorang. Gusmen adalah putra dari tokoh besar Islam panutan umat, yang dididik dengan pendidikan agama yang mendalam sehingga tidak mungkin membandingkan suara adzan dengan sesuatu yang bukan bandingannya. Tentu hal itu adalah keliru dan tidak benar adanya.
Wallahu a’lam bisshowab.

