Kegiatan ini diinisiasi oleh tim penelitian MoRA The AIR Funds yang bekerja sama dengan Pusat Pengabdian Masyarakat UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan serta Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan. Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya strategis dalam mendorong pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.
Dari pihak pesantren, kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Ibnu Abbas, Bapak Budi Harjo, S.T., Mudir Pesantren Ustadz Ahfadl Saefuddin, M.Pd., C.SQ, Kepala Sekolah Ustadz Ali Mahdi, M.H., serta Koordinator Pengelolaan Sampah Ustadz Amiruddin, S.Ag. Peserta pelatihan terdiri dari perwakilan santri, tenaga kebersihan pesantren, serta perwakilan guru.
Materi pelatihan pengelolaan sampah organik disampaikan oleh Ridho, seorang aktivis pengelolaan sampah dari Mulyorejo, serta Rudi dari komunitas Banyu Larva yang telah berpengalaman dalam pengolahan sampah berbasis organik dan pemberdayaan masyarakat.
Ketua tim riset MoRA The AIR Funds, Nanang, dalam sambutannya menyampaikan bahwa program pendampingan pengelolaan sampah ini akan dilaksanakan di tiga pesantren di Kabupaten Pekalongan, yaitu Pesantren Ibnu Abbas di Wiradesa, Pesantren Syarief Hidayatullah di Wonopringgo, dan Pesantren Walindo di Siwalan. Menurutnya, secara historis pesantren memiliki peran penting dalam menjawab persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. “Hari ini, salah satu problem krusial yang dihadapi adalah persoalan sampah. Pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi solusi,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah semata, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kurikulum pesantren serta membekali santri dengan soft skill dalam memecahkan problem kehidupan nyata di masyarakat.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UIN Gus Dur Pekalongan, Syamsul, menyampaikan bahwa sampah yang selama ini dipandang sebagai beban, jika dikelola dengan baik justru dapat memberikan nilai ekonomi. “Baik sampah organik maupun anorganik memiliki potensi untuk diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomis,” ungkapnya.
Ketua Yayasan Ibnu Abbas, Budi Harjo, menyambut baik program ini dan menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh implementasi pengelolaan sampah di lingkungan pesantren. Ia bahkan menegaskan kesiapan pesantren dalam mendorong konsep zero waste serta pengembangan ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi motor penggerak perubahan sosial, khususnya dalam menghadapi krisis lingkungan dan persoalan sampah yang semakin kompleks.
Kontributor : Dr. Nanang Hasan
Editor : Baryachi
Redaktur : Tim Kerja Humas

