Ratusan mahasiswa antusias mengikuti acara bedah buku tersebut. Acara menghadirkan jajaran tokoh penting, yakni Rektor UIN Gus Dur Pekalongan Prof. Dr. Zaenal Mustakim, M.Ag., Penulis buku K.H. dr. Umar Wahid, Editor buku Dr. H. Imam Anshori Shaleh, S.H., Hum., Pengulas buku Dr. Kurdi, M.Si., serta Moderator Tsalis Syaifuddin, M.Si.
Dalam sambutannya, Rektor Prof. Zaenal Mustakim, M.Ag., mengucapkan selamat datang kepada para narasumber dan menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan literasi yang menghadirkan keluarga dekat Presiden RI ke-4, yakni Gus Umar yang merupakan adik kandung K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Alhamdulillah nama Gus Dur disematkan di kampus yang mulai tumbuh ini. Berkah nama Gus Dur, UIN Pekalongan dapat berkembang signifikan setara dengan UIN lain, baik akademik, non akademik, sarpras, dan lainnya,” ujarnya.
Beliau juga menegaskan bahwa K.H. dr. Umar Wahid adalah sosok yang paling memahami perjalanan hidup Gus Dur sebagai kakak sekaligus tokoh bangsa.
“Gus Umar mendampingi Gus Dur sejak masa sakit sebelum menjadi presiden, saat menjabat presiden, hingga beliau wafat. Kehadiran Gus Umar dengan membawa buku ini merupakan berkah bagi kita semua. Semoga menjadi inspirasi dan motivasi,” tambahnya.
Rektor turut mengapresiasi hadirnya editor buku, Dr. Imam Anshori, yang dinilai ikut menjaga dokumentasi sejarah keluarga Bani Wahid.

Sebagai narasumber utama, K.H. dr. Umar Wahid menjelaskan bahwa buku Teladan dari Rumah Ulama berisi kisah nyata kehidupan keluarga KH. Wahid Hasyim dan Nyai Solikhah beserta keenam anaknya.
Ia mengisahkan perjalanan keluarga mereka yang bermula dari Denanyar, Jombang. Ketika K.H. Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama (1950–1952), keluarga kecil ini pindah ke Jakarta dengan kehidupan yang tetap sederhana.
“Bapak (K.H. Wahid Hasyim) wafat di usia 39 tahun pada 1953. Saat itu Bu Nyai Solikhah sebagai istri berusia 31 tahun, sedang hamil, dengan lima anak. Gus Dur baru lulus SD, dan anak bungsu masih TK,” tuturnya.
Nyai Solikhah lalu menjadi single parent yang mengasuh enam anak sekaligus melanjutkan perjuangan suaminya. Gus Umar menyebut bahwa keteladanan ibu mereka sangat berpengaruh, terutama dalam nilai sederhana dan ikhlas, pekerja keras, pesan untuk menjadi orang bermanfaat bagi masyarakat, aktif berorganisasi, menjunjung tinggi kejujuran dan keberanian mengambil tanggung jawab serta sikap egaliter yang tidak membeda-bedakan manusia.
Keenam anak K.H. Wahid Hasyim tumbuh menjadi tokoh bangsa, di antaranya Gus Dur (Presiden RI), Aisyah (Ketua Muslimat), Gus Sholah (Wakil Komnas HAM dan pengasuh Tebuireng), Gus Umar sebagai dokter, lilik (Ketua IPPNU, aktif Fatayat dan pernah menjadi DPR) hingga Hasyim (si bungsu yang dikenal jenius.
“Ibu kami selalu memandang Bapak bukan hanya sebagai suami, tapi juga guru dan panutannya. Ibu istiqamah dalam ibadah, menjaga silaturahim, dan setiap subuh khataman Al-Qur’an. Peran ibu sangat menentukan kesuksesan anak-anaknya,” kata Gus Umar.
Dr. H. Imam Anshori Shaleh, editor buku, menceritakan proses penerbitan buku yang awalnya tidak direncanakan oleh penulis.
“Saya mendorong Gus Umar. Sayang sekali jika keluarga Bani Wahid tidak terdokumentasikan dengan baik. Saya penggemar pemikiran Kiai Wahid Hasyim yang sangat maju, toleran, dan visioner,” ucapnya.
Ia juga menyebut banyak hal menarik dalam dinamika internal keluarga, termasuk cara pemanggilan yang unik dan sikap egaliter Nyai Solikhah kepada putra-putrinya.
Sebagai pengulas, Dr. Kurdi, M.Si., menyoroti wasiat penting Kiai Wahid Hasyim kepada anak-anaknya.
“Kiai Wahid berpesan agar anak-anaknya tidak hanya menjadi kiai, tetapi juga menjadi insinyur, dokter, dan profesi lainnya. Karena wasiat itulah Bu Nyai Solikhah bersikukuh menetap di Jakarta. Selain itu juga bukti nyata implementasi dalam memasukan pendidikan agama di sekolah dan ilmu pendidikan pengetahuan umum dipesantren”. ungkanya
Menurutnya, keberhasilan anak-anak K.H. Wahid Hasyim bukan hanya karena nasab ulama besar, tetapi juga karena proses pendidikan, kerja keras, dan pembiasaan yang kuat.
“Keluarga ini menjadi besar bukan hanya karena keberkahan Kiai Hasyim Asy’ari, tetapi juga karena usaha keras dan proses belajar yang panjang,” ujarnya.
Acara bedah buku ini berlangsung hangat, penuh inspirasi, dan banyak memberikan pelajaran terkait pendidikan karakter, adab, integritas, dan perjuangan keluarga ulama. Melalui buku Teladan dari Rumah Ulama, peserta diajak memahami bahwa keteladanan sejati tumbuh dari rumah, dari proses panjang, dan dari keteguhan orang tua dalam mendidik generasi. Acara ditutup dengan diskusi interaktif dan penyerahan cendera mata, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta yang hadir di Perpustakaan UIN Gus Dur Pekalongan.
Penulis : Anik Maghfiroh
Editor : Sri Lestari
Redaktur : Tim Kerja Humas

