Dalam forum yang dihadiri para humas PTKIN se-Indonesia tersebut, Prof. Zaenal menegaskan bahwa peran humas sangat strategis dalam membangun citra dan kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi.
“Humas menjadi wajah kampus. Wajah itu mahal perawatannya,” tegasnya.
Menurutnya, wajah institusi tidak hanya soal tampilan visual, tetapi juga menyangkut kualitas narasi, konsistensi pesan, serta kemampuan membaca kebutuhan publik. Karena itu, humas harus didukung dengan perangkat yang memadai dan sumber daya kreatif agar mampu menghadirkan konten-konten menarik dan relevan.
“Humas harus memiliki banyak perangkat yang digunakan. Tampilannya harus menarik. Bagaimana men-create berita, gambar, hingga maskot yang menarik perhatian publik,” ujarnya.
Dalam konteks publikasi SPAN PTKIN 2026, Rektor UIN Gus Dur juga menekankan pentingnya kolaborasi antara humas dan unit admisi. Menurutnya, sinergi kedua elemen ini akan memperkuat strategi sosialisasi kepada Calon Mahasiswa Baru (CAMABA).
“Ke depan, libatkan admisi juga supaya lebih maksimal dalam memberikan sosialisasi kepada calon mahasiswa. Sinergi humas dan admisi sangat perlu untuk perkembangan lembaga dan kampus,” jelasnya.
Ia menambahkan, strategi publikasi saat ini harus adaptif dengan karakter generasi muda. Salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah menggandeng influencer lokal berbasis remaja untuk berkolaborasi dalam mengenalkan kampus.
“Humas harus mencari influencer lokal berbasis remaja. Ini diajak kolaborasi supaya lebih mengenalkan kampus dan meyakinkan para alumni SMA/sederajat untuk kuliah di UIN kita,” ungkapnya.
Melalui konsolidasi strategi publikasi SPAN PTKIN 2026 ini, diharapkan seluruh PTKIN mampu membangun komunikasi publik yang lebih kreatif, kolaboratif, dan berdampak luas, sehingga semakin banyak generasi muda yang mendapatkan informasi akurat dan tertarik melanjutkan pendidikan tinggi di PTKIN.
Penulis : Baryachi
Editor : Sri Lestari
Redaktur : Tim Kerja Humas

