Gus Muwafiq menuturkan ada 2 hukum kalau berbicara tentang ekologis. Ekologis merupakan milik semua bangsa, agama, maupun ras manapun. “Karena yang kita bicarakan bumi, milik semua, jadi tidak pandang bulu,” tegasnya.
Gus Muwafiq menambahkan, ekologi berkaitan dengan hukum alam, mau beragama atau tidak kalau ada longsor, banjir pasti akan terkena dampaknya. “Ekologis itu universal, secara ekologis bumi pernah rusak, apa yang disampaikan malaikat melekat samapai kini, manusia artinya merusak sampai saat ini. Contoh ketika membuat gedung juga ada nyawa yang terancam, berapa hutan yang rusak,” imbuh Gus Muwafiq.
Ia menuturkan, manusia jika dihitung mulai dari kepala ada jilbab, ada make up, pensil mata. “Ada berapa kayu yang ditebang untuk bahan-bahan itu, di leher ada kalung itu bahannya dari tambang, belum lagi sampai ke bawah. Kita duduk pakai kursi itu kalau kita pikir kayunya nebang dari mana? semua bahan ini dari alam, manusia tidak bisa membuat sesuatu tanpa dari alam,” jelasnya.
Gus Muwafiq mengungkapkan, dunia akan baik-baik saja tanpa manusia, ikan akan banyak lagi, laut jadi jernih, burung jadi banyak, tapi dunia jadi sepi misal hanya diserahkan kepada malaikat. Untuk melawan keseimbangan ekologi kembali lagi ke tasawuf.
Semua kegiatan yang menyebabkan kerusakan alam akan kembali pada manusia. “Misal sawit kembali lagi yang memakai manusia, nikel yang memakai batarai manusia. Seluruh pasar kerusakan itu adalah manusia,” jelas Gus Muwafiq.
Jihad ekologis itu penting untuk menyelamatkan ekosistem, jihat melawan diri yang konsumtif, eksplotatif. Melawan diri untuk menggunakan sekedarnya. Diskusi berlangsung menarik dengan berbagai tanggapan dari peserta yang berasal dari kalangan akademisi maupun mahasiswa.
Penulis : Baryachi
Editor : Sri Lestari
Redaktur : Tim Kerja Humas