Dalam pidato kuncinya, Prof. Zaenal menegaskan bahwa pendidikan Islam harus mampu menjawab tantangan global tanpa kehilangan fondasi moral dan spiritual. Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan, teknologi digital, perubahan sosial, hingga krisis lingkungan menuntut sistem pendidikan untuk lebih adaptif sekaligus humanis.
“Pendidikan bukan hanya mencerdaskan manusia, tetapi juga memanusiakan manusia. Teknologi harus memperkuat nilai kemanusiaan, bukan justru melemahkannya,” ujar Prof. Zaenal di hadapan akademisi, peneliti, praktisi pendidikan, dan peserta dari berbagai negara.
Dalam forum tersebut, Rektor UIN Gus Dur menyoroti tiga dimensi penting masa depan pendidikan Islam, yakni transformasi digital berbasis etika, penguatan kearifan budaya, serta pendidikan untuk perdamaian dan kemanusiaan. Ia juga menekankan bahwa nilai-nilai Gus Dur menjadi landasan penting dalam membangun pendidikan Islam yang inklusif dan berkeadaban.
“Modernisasi jangan sampai membuat kita kehilangan jati diri. Kearifan lokal bukan penghambat kemajuan, tetapi fondasi kemanusiaan,” ungkapnya.
Usai keynote speech Rektor, konferensi dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi dari sejumlah narasumber nasional dan internasional. Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, Ph.D., membahas transformasi pendidikan vokasi inklusif di era digital melalui materi “Navigating the Future: Transforming Inclusive Vocational Education in the Digital Era”.

Sementara itu, Madam Le Thuy Ngoc Van dari NVEC Vietnam menyampaikan materi bertajuk “The Global Language vs The Local Identity” yang menyoroti pentingnya menjaga identitas budaya lokal di tengah penguatan bahasa global. Adapun Prof. Sri Harini, M.Si., Guru Besar Ilmu Statistika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, membahas pengembangan kecerdasan buatan yang beretika dalam dunia pendidikan melalui materi “Building Ethical AI in Education”
Pada sesi diskusi, salah satu peserta menanyakan metode efektif dalam mengajarkan bahasa Inggris kepada anak usia sekolah dasar. Menanggapi pertanyaan tersebut, Madam Le Thuy Ngoc Van menjelaskan bahwa pembelajaran anak memerlukan pendekatan berbeda dibandingkan orang dewasa.
Menurutnya, metode seperti musik, seni, permainan, dan Total Physical Response (TPR) dapat membantu anak lebih mudah memahami bahasa Inggris karena proses belajar berlangsung secara menyenangkan.
“Anak-anak belajar lebih cepat ketika mereka merasa senang dan terlibat dalam proses pembelajaran,” jelasnya.
Melalui ICONIE 2026, UIN Gus Dur Pekalongan berharap dapat memperkuat kolaborasi akademik internasional sekaligus menghadirkan gagasan inovatif bagi pengembangan pendidikan Islam yang adaptif, humanis, dan berkelanjutan.
Penulis : Sri Lestari
Editor : Baryachi
Redaktur : Tim Kerja Humas

