Seminar ini hadir sebagai respons atas krisis iklim dan energi global yang tidak hanya dipandang sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai krisis moral dan spiritual manusia modern. Dalam kerangka ini, pendekatan tasawuf dinilai mampu menawarkan solusi mendasar melalui penguatan nilai-nilai keseimbangan (mizan), kesederhanaan (zuhud), dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk merekonstruksi teologi ekologis melalui integrasi antara ilmu lingkungan modern dan kearifan spiritual Islam. Selain itu, seminar ini juga diharapkan mampu membangun sinergi antara pengambil kebijakan, akademisi, dan aktivis lingkungan dalam merumuskan solusi transisi energi yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Seminar ini menjadi ruang dialog penting untuk menjembatani pendekatan teknokratis dengan nilai-nilai spiritualitas. Krisis ekologi tidak cukup diselesaikan dengan teknologi semata, tetapi juga membutuhkan transformasi kesadaran manusia. Kegiatan ini menghadirkan tokoh nasional sebagai narasumber, KH. Ahmad Muwafiq dari Pondok Pesantren Minggir Yogyakarta.
Ditargetkan sebanyak 1.000 peserta akan mengikuti seminar ini, yang terdiri dari unsur pejabat dan politisi, aktivis lingkungan, akademisi, mahasiswa, hingga pemuda dan organisasi kemasyarakatan.
Melalui kegiatan ini, UIN Gus Dur juga menargetkan lahirnya rekomendasi kebijakan (policy brief) berbasis integrasi sains dan agama yang akan disampaikan kepada pemerintah dan lembaga terkait. Selain itu, diharapkan terbentuk jejaring gerakan “Sufi Hijau” sebagai upaya konkret dalam pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana.
Seminar ini juga untuk meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab iman dan kemanusiaan. Dengan mengusung pendekatan eko-sufisme, akan menghadirkan solusi integratif atas tantangan global melalui harmonisasi antara sains dan spiritualitas.
Penuli : Baryachi
Editor : Sri Lestari
Redaktur : Tim Kerja humas

